Menunggu Mama Pulang ke Rumah


Mengasuh, mendidik dan membesarkan anak, membentuk pribadi-pribadi berkualitas untuk kemajuan bangsa adalah bagian dari nasionalisme.

Saya teringat kenangan saat masih sekolah di bangku SMA. Setiap pagi, saya berangkat ke sekolah sekitar pukul 05.45 dan kembali ke rumah sekitar pukul empat sore. Ternyata, jam keberangkatan dan kepulangan saya sama seperti waktu keberangkatan dan kepulangan para karyawan pabrik garmen yang banyak tersebar di daerah saya. Saya tinggal di Kabupaten Sukabumi, tepatnya di daerah Cicurug dan sekolah saya terletak di Kecamatan Cibadak. Diantara kedua wilayah tersebut berdiri puluhan pabrik garmen. Hampir seluruh karyawan pabrik garmen adalah kaum perempuan beragam usia, mulai dari anak remaja hingga ibu-ibu yang telah berumah tangga. Sering saya harus merasakan berada dalam satu angkot dengan mereka saat berangkat atau pulang sekolah. Menggelikan kadang ketika saya menjadi satu-satunya penumpang laki-laki dalam angkutan kota yang dipenuhi karyawan garmen. Saya kadang ikut larut dalam obrolan mereka tentang banyak hal mulai dari urusan pabrik hingga masalah rumah tangga, yang justru menjadi penawar rasa jenuh yang saya alami selama perjalanan.Keberadaan pabrik garmen memang menjadi angin segar tersendiri terhadap laju perekonomian di Kabupaten Sukabumi. Kaum perempuan terutama yang paling diuntungkan dengan keberadaan pabrik-pabrik tersebut. Selepas lulus dari sekolah menengah pertama, mereka bisa langsung bekerja di pabrik garmen. Sejumlah posisi pekerjaan di pabrik garmen memang tidak memerlukan keahlian khusus sehingga terkadang asalkan dia seorang perempuan dan memiliki ijazah, pasti diterima untuk bekerja.

Sejak keadaan ekonomi bangsa ini membaik setelah diterpa badai krisis di akhir tahun 90-an, kaum perempuan mengalami euforia di bidang ’perburuhan’. Permintaan terhadap tenaga kerja perempuan meningkat drastis untuk bidang-bidang pekerjaan seperti buruh pabrik dengan menjamurnya pabrik garmen di berbagai wilayah. Di Kabupaten Bogor misalnya, data tahun 2009 menyebutkan terdapat sekitar 2870 pabrik garmen di wilayah tersebut. Sensus ekonomi yang dilakukan BPS menunjukkan untuk wilayah Jawa Barat selama kurun waktu 2003 hingga 2005, industri pakaian jadi mendominasi penyerapan tenaga kerja bersama dengan industri tekstil serta makanan dan minuman. Negeri ini menjadi sasaran ekspansi sejumlah pengusaha asing untuk menanamkan modalnya dan mendirikan pabrik-pabrik garmen. Kemudahan untuk mendapatkan tenaga kerja menjadi salah satu faktor utama, ditambah dengan ’harga’ para buruh yang terbilang murah.

Untuk wilayah Kabupaten Sukabumi, upah minimum buruh pada tahun 2009 adalah sebesar Rp 630.000,- per bulan dengan upah sektoral garmen Rp 632.000,- per bulan. Padahal dari hasil survei pada tahun 2008, kebutuhan untuk hidup layak di Kabupaten Sukabumi adalah sebesar Rp 792.000,- untuk satu bulan. Seringkali mereka harus lembur hingga 80 jam tiap bulan untuk mendapatkan tambahan upah, itu pun bila pesanan sedang ramai. Status mereka yang kebanyakan sebagai tenaga kerja kontrak juga selalu menjadi ancaman setiap saat terhadap pekerjaan mereka. Sekitar 75 persen buruh di Kabupaten Sukabumi, statusnya adalah tenaga kerja kontrak.

Belum selesai sampai disitu, masalah utama yang dihadapi para buruh perempuan, terutama mereka yang telah berkeluarga, adalah dilema dalam menentukan prioritas. Di satu sisi mereka harus bekerja untuk memastikan roda rumah tangga tetap berjalan, disisi lain kehidupan domestik keluarga seperti pengasuhan anak, mengurus suami, megurus rumah, dan lain-lain juga merupakan tanggung jawab mereka. Masalah ini sebenarnya bukan hanya milik mereka para buruh perempuan di pabrik garmen, lebih dari itu setiap perempuan yang telah berumah tangga dan juga memilih bekerja pasti merasakan hal tersebut. Namun keterbatasan sumberdaya membuat para buruh perempuan yang kebanyakan berasal dari golongan menengah ke bawah mendapat tekanan paling besar dari masalah tersebut. Bagi mereka yang mampu, menghadirkan pembantu rumah tangga untuk mengurus rumah dan baby sitter untuk mengasuh anak bisa sedikit meringankan permasalahan – walaupun tidak menyelesaikan permasalahan.

Kehidupan ekonomi yang semakin berat membuat ’ongkos’ untuk hidup di negeri ini semakin mahal. Ditambah dengan perubahan di bidang sosial dengan adanya isu kesetaraan gender dan status pendidikan perempuan yang lebih tinggi, membuat mereka tidak ragu lagi untuk meninggalkan rumah dan bekerja di sektor publik. Kesempatan semakin terbuka dengan menjamurnya industri seperti pabrik garmen yang mencari tenaga kerja wanita dan tidak mesyaratkan kemampuan khusus bagi para karyawannya.

Seperti di negara kawasan timur lainnya, Indonesia sangat menjunjung tinggi budaya patriarki dalam keluarga. Laki-laki menjadi pemimpin keluarga dan berperan sebagai primary breadwinner, pencari nafkah utama dengan bekerja di sektor publik. Sementara itu, tugas perempuan adalah mengurus sektor domestik rumah tangga. Seiring dengan berjalannya waktu, faktor ekonomi serta sosial menuntut adanya fleksibilitas dalam pembagian peran antara suami dan istri dalam keluarga. Para perempuan atau istri kini turut berperan dalam generating income bagi keluarga. Hal tersebut berdampak pada terabaikannya tugas-tugas domestik dalam keluarga karena keterbatasan sumberdaya yang dimiliki.

Permasalahan utama yang mendapat sorotan adalah tugas pengasuhan anak di dalam keluarga yang kini menjadi semakin kabur dalam hal tanggung jawab terhadap tugas tersebut. Pengasuhan anak, terutama pada usia dini menjadi kegiatan yang sangat penting. Hal tersebut terbukti memiliki implikasi pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Masa anak-anak adalah masa awal pembentukan konsep-konsep diri, citra diri, dan kecenderungan-kecenderungan perilaku pada manusia. Perbedaan karakter, kebiasaan, selera, dan terlebih persepsi-persepsi tentang kehidupan selanjutnya dipengaruhi oleh masa kecil setiap individu. Semua itu dibentuk melalui proses pengasuhan orang tua atas anak-anakanya. Pengasuhan anak adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan baik, agar dapat membentuk seorang anak yang tumbuh dan berkembang secara optimal dalam berbagai aspek.

Peran orang tua, terutama ibu dalam mengasuh anak sangatlah diperlukan. Ratna Megawangi dalam bukunya yang berjudul ”Pendidikan Karakter” menyatakan bahwa ada setidaknya tiga kebutuhan fundamental yang harus dipenuhi agar anak berkepribadian baik dan sangat tergantung pada peran perempauan sebagai ibu dalam mengasuh. Pertama adalah kebutuhan akan kelekatan psikologis (maternal bonding) yang erat antara anak dengan ibunya. Tujuannya untuk membentuk kepercayaan kepada orang lain (trust), merasa diperhatikan, dan menumbuhkan rasa aman. Hubungan yang erat antara ibu dan anak pada tahun-tahun pertama terutama memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak.

Kedua adalah kebutuhan akan rasa aman, dimana anak memerlukan lingkungan yang stabil dan aman. Pada tahun-tahun pertama seorang anak mencari kontak hanya dengan satu orang dan biasanya ibu. Ketika pengasuhan dilakukan bergantian oleh orang-orang yang berbeda, akan berpengaruh negatif pada perkembangan emosi anak. Kebutuhan yang ketiga adalah stimulasi fisik dan mental diamana anak memerlukan reaksi timbal balik dengan orang tua mereka terutama ibu. Perhatian terhadap gizi anak juga perlu mendapat perhatian.

Pengasuhan anak berkaitan erat dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia. Hal tersebut menjadi sorotan yang sangat penting karena secara mikro, seorang anak yang meiliki kualitas yang baik diharapkan dapat membawa perubahan di level keluarga. Lebih dari itu, kemajuan suatu negara tentunya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang hidup di dalamnya. Anak-anak hari ini adalah pemimpin di masa depan. Untuk membuat mereka berkualitas dan mampu berbuat banyak untuk kemajuan keluarga, masyarakat, dan bangsa di masa depan, perlu usaha yang harus dilakuakan sejak saat ini. Seperti telah disebutkan sebelumnya, pengasuhan yang baik adalah sarana untuk menuju ke arah tersebut.

Inilah yang menjadi dilema utama para perempuan yang juga seorang ibu dan memilih untuk bekerja. Di satu sisi mereka harus memastikan asap tetap megepul dari dapur rumah. Di sisi lain, anak-anak mereka membutuhkan perhatian dan pemenuhan kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Memang tidak ada data yang menunjukkan secara pasti berapa jumlah buruh wanita yang juga seorang ibu, namun berkaca pada keadaan di lingkungan sekitar jumlahnya tentunya cukup banyak.

Banyak fenomena saat ini menunjukkan bahwa proses pembentukan sumber daya manusia di Indonesia masih belum berada pada trek yang tepat. Kemerosotan moral di kalangan remaja yang ditandai dengan meningkatnya angka kenakalan remaja seperti tawuran, perkelahian, hingga masalaha pergaulan bebas menjadi bukti nyata. Belum lagi tingkat korupsi yang dilakukan oleh para pejabat di negeri ini menunjukkan bahwa manusia Indonesia masih jauh dari cap berkualitas. Tentunya ada yang salah dengan sistem yang selama ini berlaku di masyarakat kita sehingga masalah tersebut perlu mendapat perhatian khusus.

Thomas Lickona menyatakan bahwa walaupun jumlah anak-anak dalam populasi hanya sekitar 25% total jumlah penduduk, namun menentukan 100% masa depan. Pembentukan manusia yang berkualitas, yang dapat memajukan kehidupan bangsa, harus dimulai sejak dini. Pepatah mengatakan bahwa mengajarkan anak-anak kecil ibarat seperti menulis di atas batu, yang akan berbekas sampai usia tua. Segala nilai dan pengetahuan yang dapat mendukung kualitas manusia perlu diberikan sejak usia dini, dan hal yang paling memungkinkan untuk melakukan hal tersebut adalah melalui proses pengasuhan yang baik dan berkualitas. Kebutuhan-kebutuhan anak baik secara fisik atau pun psikis bisa terpenuhi dan proses sosialisasi akan nilai, moral, dan pengetahuan juga bisa dilakukan dengan baik.

Berkaca pada kenyataan yang ada di masyarakat, dilema yang dihadapi para ibu dari golongan menengah ke bawah yang juga harus bekerja menjadi buruh pabrik menjadi halangan dalam mewujudkan hal tersebut. Langkah ekstrim seperti meninggalkan pekerjaan secara total dan kembali ke rumah untuk fokus terhadap peran domestik di dalam rumah mungkin sulit untuk dilaksanakan. Namun, hal tersebut merupakan jalan yang terbaik dalam rangka menjalankan tugas pengasuhan anak dengan baik. Walau demikian, kita tidak bisa menutup mata dengan tekanan ekonomi yang menuntut perempuan tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dalam kajian mengenai keluarga, dikenal istilah balancing work and family, menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Strategi inilah yang paling memungkinkan diterapkan dalam menghadapi dilema para kaum buruh perempuan. Strategi ini memungkinkan kaum perempuan tetap bisa berkarir di sektor publik tanpa harus meninggalkan kewajibannya di sektor domestik. Para ibu yang juga bekerja di luar rumah harus bisa membuat skala prioritas pada suatu saat tertentu antara tugas di rumah dan pekerjaan. Saat tugas di rumah membutuhkan kehadiran ibu seperti saat anak baru lahir hingga mencapai usia sekolah, ibu hendaknya tetap fokus pada tugasnya di rumah dan mengurangi atau meninggalkan rutinitas pekerjaan di luar rumah. Saat usia anak sudah mencapai kemandirian dan bisa ditinggalkan, ibu bisa kembali fokus berkarir di sektor publik.

Strategi balancing work and family bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Karena pada kenyataannya banyak faktor lain baik dari dalam keluarga maupun dari luar seperti pihak industri yang bisa menghambat pelaksanaannya. Oleh karena itu, diperlukan peran serta pihak-pihak yang terkait seperti suami, pihak industri, juga pemerintah untuk membantu para ibu agar bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Suami harus turut serta membantu para istri dalam menyelesaikan tugas domestik, karena tidak mungkin semua dikerjakan oleh istri yang juga bekerja di luar rumah. Manajemen yang baik dan kreatif akan membentuk suatu tim yang solid antara suami dan istri dalam menjalankan kehidupan rumah tangga.

Kontribusi pihak industri adalah memberikan kemudahan-kemudahan bagi para buruhnya yang telah berumah tangga agar mereka tetap bisa mengontrol urusan rumah tangganya dengan baik, seperti pemberian cuti saat anak sakit, pengadaan day care yang baik di lingkungan kerja, dan lain sebagainya. Pemerintah sebagai pemegang otoritas pemerintahan harus bisa merancang hubungan antara pihak industri dan buruhnya, terutama buruh perempuan, agar bisa tetap selaras dengan pelaksanaan tugas perempuan di sektor domestik melalui pembuatan aturan perundangan. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan pemberdayaan kepada kaum perempuan agar mereka bisa bekerja di rumah melalui kegiatan kewirausahaan. Dengan begitu, upaya pelaksanaan strategi balancing work and family akan lebih mudah untuk dilakukan.

Di luar itu semua, hal terpenting adalah menumbuhkan kembali rasa bangga dalam diri setiap perempuan Indonesia dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka, sebagai upaya membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Kita semua tentunya yakin, kemajuan negeri ini di masa depan adalah karena kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya. Mengasuh anak dengan baik dan berkualitas adalah bagian dari upaya memajukan bangsa dan negara. Mengasuh anak dengan baik dan berkualitas adalah bentuk pengabdian sebagai wujud nasionalisme seorang warga negara terhadap bangsanya. Penghargaan setinggi-tingginya bagi mereka yang selalu bangga dan ikhlas dengan tugasnya dalam mengasuh anak-anak mereka dengan baik dan berkualitas.

 

Nb: Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam salah satu kompetisi esai tingkat nasional dengan tema nasionalisme, namun belum berhasil menjadi pemenang.

Iklan

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: