Mari Menjadi Bulat


 

Double Perplexities Syndrome

Double Perplexities Syndrome

Bagi banyak mahasiswa sarjana (termasuk saya dan mungkin juga Anda), tingkat akhir bisa menjadi sebuah momok. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh double perplexities syndrome (sindrom dua kebingungan) yang dihadapi oleh para mahasiswa saat menapaki kehidupan di tingkat akhir masa perkuliahan. Ciri-ciri dari mahasiswa yang mengalami sindrom ini adalah: berat badan yang terus turun secara sistematis dari bulan ke bulan atau malah naik terus menerus secara sistematis (akibat stres), timbul kantung mata di sekitar daerah mata, tiba-tiba menjadi sering berkunjung ke perpustakaan, tulisannya di jejaring sosial seringkali menunjukkan kegalauan, dan following @deritamahasiswa di situs jejaring sosial twitter.

Kebingungan yang pertama tentu saja disebabkan oleh tugas akhir yang kadang tidak kunjung selesai. Kebingungan terjadi saat teman-teman yang lain sudah siap untuk mengambil data namun diri kita masih berkutat dengan proposal yang masih saja ditolak oleh dosen pembimbing. Saat teman lain siap untuk seminar dan sidang namun kita masih saja bergumul dengan bab pertama proposal penelitian, kebingungan semakin menjadi-jadi. Banyak faktor yang bisa menghambat kelanjaran pengerjaan tugas akhir, mulai dari faktor diri sendiri, tema yang terlalu berat (mahasiswa S1 yang memilih tema untuk S2), hingga faktor dosen pembimbing yang terkadang sering membuat mahasiswa bingung.

Setelah kerja keras, jatuh bangun, banting tulang, menyelesaikan tugas akhir hingga titik darah penghabisan di masa injury time, mahasiswa yang mengalami sindrom ini bisa dibilang setengah sembuh. Namun jangan senang dulu, karena kebingungan yang kedua telah menanti di depan mata. Kebingungan kedua ini tidak lain dan tidak bukan berkaitan dengan pertanyaan ini, “Sudah jadi sarjanan, bekerja dimana sekarang?”

Ini adalah pertanyaan sensitif seperti halnya menanyakan berat badan dan usia kepada perempuan, terutama bagi mereka para fresh graduate yang masih betah dalam “masa tunggu” (rentang waktu antara lulus hingga mendapatkan pekerjaan). Secara garis besar, perihal kerja-bekerja ini terbagi menjadi tiga dimensi besar bagi seorang lulusan perguruan tinggi. Dimensi pertama adalah, bekerja di bidang yang sesuai dengan keilmuan yang selama ini dipelajari di perguruan tinggi. Orang-orang yang memilih bekerja di jalan ini biasanya dipengaruhi oleh idealismenya yang tinggi dan juga kesempatan yang terbuka lebar untuk bekerja di bidang sesuai keilmuan yang didalami. Dimensi yang kedua adalah menempuh jalan wirausaha atau menjadi seorang entrepreneur. Jiwa wirausaha yang sudah dilatih sejak duduk di bangku kuliah biasanya menjadi pendorong seseorang memilih jalan ini. Dimensi yang terkakhir adalah memilih jalur “murtad” dalam arti, bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuan yang dipelajari saat ini. beberapa faktor yang bisa menyebabkan orang memilih jalan ini antara lain: selama ini belajar di bidang yang memang bukan minat utamanya, ada minat utama lain dan kesempatan bekerja disana lebih terbuka, dan mungkin karena memang tidak ada pilihan lain lagi.

Pertanyaannya adalah, apakah memilih jalan murtad dalam bekerja itu suatu hal yang salah? Dalam sebuah forum mengenai persiapan mengadapi dunia kerja, pembicara yang merupakan kepala bagian pemasaran di sebuah perusahaan asuransi terkemuka menyampaikan bahwa bagi para fresh graduate ambilah kesempatan bekerja yang ada di depan mata. Walaupun ada idealisme dalam hal pekerjaan yang ingin kita capai, jadikan peluang pekerjaan yang ada di depan mata sebagai pijakan atau batu loncatan untuk meraih idealism tersebut. Tidak ada yang salah dengan murtad dalam dunia kerja, selama idealisme yang kita punya terus kita jaga dan tetap kita perjuangkan.

Beberapa saat yang lalu, saya juga sempat mewawancarai seorang dosen di departemen tempat saya belajar untuk keperluan buku tahunan. Dalam pesan yang beliau sampaikan, isinya kurang lebih seperti ini:

 

“Sebenarnya kita ini bisa menjadi apa saja. Menjadi sarjana itu lebih merupakan suatu basic bagi pengembangan kemampuan lain yang lebih bersifat pragmatis. Jangan terjebak dengan pemikiran bahwa bidang keahlian yang kita pelajari dan miliki terlalu sempit. Kita harus menjadi orang yang, seperti saya, ‘bulat’! Artinya, kita bisa digelindingkan kemana saja tanpa kehilangan kendali. Maksudnya ditmpatkan (bekerja) di bidang A bisa, di bidang B bisa. …Memang idealnya kita bekerja pada bidang keahilian yang kita tekuni, namun yang lebih penting lagi adalah kita mendapatkan pekerjaan. Kalau perlu kita ciptakan dulu pekerjaannya lalu kita kembangkan sesuai keinginan. Lulusan IKK bila ada kesmpatan menjadi jurnalis kenapa tidak, atau Anda mengembangkan PAUD sendiri. Sekali lagi, sarjana itu masih basic, masih perlu banyak pengayaan dan adaptasi terhadap lingkungan kehidupan sehari-hari.”

 

Sekali lagi, pernyataan tersebut menekankan bahwa tidak ada yang salah dengan kemurtadan dalam bekerja. Karena pada hakekatnya yang terpenting adalah kita mampu mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu.

Semoga kita semua bisa menjadi bagian dari orang-orang “bulat” yang tidak lagi mengalami kebingungan akibat double perplexities syndrome. Ini hanyalah pandangan subyektif diri saya pribadi dengan pertimbangan beberapa pendapat orang lain. Bila Anda memiliki pendapat lain itu tidak masalah, karena ini hanyalah satu dari tak terhingga sudut pandang dalam memandang realitas kehidupan. Selanjutnya mari kita selesaikan lagi proposal penelitian bagi yang masih belum selelsai, ayo turun lapang bagi yang sudah siap dengan semuanya, segeralah olah data bagi yang sudah mengambil data, bergegaslah seminar, sidang, dan daftar untuk wisuda bagi yang sudah memenuhi syarat supaya tidak kehabisan jatah, dan ayo manfaatkan semua peluang kerja yang ada di depan mata bagi yang sedang mencari pekerjaan. Semoga Tuhan selalu membimbing kita semua di jalan yang benar. Salam bulat! (aguss)

Iklan

, , ,

  1. #1 by maria elysabet on Maret 7, 2011 - 6:30 pm

    ya ampyuuuunnn gus,,,
    jlep bgt aq baca tulisan ne ~.~

    • #2 by Agus Surachman on Maret 7, 2011 - 7:27 pm

      hehe… ayo cari kerja makanya mar…. *ntar biar gw bisa nimbrung maksudnya,ehehe
      semangat!!!

  2. #3 by yuvita on Maret 7, 2011 - 9:38 pm

    mari menjadi dbulat, mahasiswa tingkat akhir yg tidak punya kerjaan kebanyakan akhirnya menjadi bulat *literally BULAT. hahahahhaahh. Tapi memang sarjana itu masih basic, selanjutnya?? Perjalanan Anda masih panjaaaaaaaang nak

    • #4 by Agus Surachman on Maret 8, 2011 - 3:52 pm

      hahaha… anak semester akhir kerjanya cuman hardolin (dahar, mod*l, ulin), makanya jadi bulat.
      perjalanan selanjutnya adalah meretas jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi,hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: