Meninjau Kembali Perkawinan


Salah satu tugas perkembangan dari individu yang telah mencapai usia dewasa adalah mencari pasangan hidup. Sebagai individu yang telah matang secara usia (dan semoga memiliki kepribadian dan sikap yang matang pula), kita telah memenuhi syarat untuk membangun mahligai perkawinan dengan pasangan hidup. Dengan demikian, sudah selayaknya kita mulai menaruh perhatian terhadap hal tersebut. Terlebih, kita sebagai orang-orang yang memang menggeluti bidang keluarga yang terkait erat dengan masalah perkawinan.

 

Perkawinan

Perkawinan telah menjadi perhatian dari kalangan akademisi dengan berbagai latar belakang keilmuan. Sebelum teman-teman semua memutuskan untuk menikah, alangkah lebih baiknya bila teman-teman kembali memahami makna perkawinan dari berbagai sudut pandang yang akan saya paparkan berikut ini. Dengan begitu, diharapkan kita semua bisa memaknai perkawinan secara lebih dalam. Saya yakin teman-teman semua pernah mempelajari ini semua, tapi tidak ada salahnya untuk kembali mengingatkan.

Menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974, yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan dalam terminologi tersebut adalah suatu pengikat secara lahir dan batin antara pria dan wanita untuk kemudian hidup bersama membentuk keluarga. Pertanyaannya kemudian, mengapa seorang laki-laki dan seorang perempuan mau mengikatkan diri mereka dalam lembaga perkawinan?

Sudut Pandang Biologi1)

Perkawinan dalam ilmu biologi berkaitan dengan fungsi reproduksi, atau sering disebut juga dengan istilah kopulasi (pada manusia disebut koitus). Kopulasi atau persenggamaan merupakan tindakan yang dilakukan sepasang hewan (termasuk manusia) dengan menggabungkan atau menyentuhkan alat kelamin kepada alat kelamin pasangannya. Dalam ilmu Biologi juga dikenal istilah feromon sebagai suatu zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat. Zat ini berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesame jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Feromon pada manusia juga berfungsi sebagai daya tarik seksual. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital di Swedia malah mengkalim bahwa feromon juga mempunyai andil dalam menghasilkan perasaan suka, naksir, cinta, bahkan gairah seksual seorang manusia pada manusia lainnya.

 

Sudut Pandang Sosiologi

Para ahli di bidang Sosiologi memberikan porsi untuk membahas masalah “cinta” dalam kaitannya dengan perkawinan. Rasa cinta menjadi salah satu alasan mengapa seseorang memutuskan untuk menikah – walaupun seiring dengan perkembangan zaman, alasan individu untuk menikah telah mengalami pergeseran, lebih dari sekedar perasaan cinta (mis. keamanan finansial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki cenderung bersikap dengan berlandaskan perasaan cinta mereka yang terjadi secara spontan. Sementara wanita lebih menaruh perhatian terhadap intensitas rasa cinta seorang laki-laki terhadap dirinya dibandingkan perasaannya sendiri. Karena perkawinan akan sangat menentukan status sosial dan ekonomi kebanyakan wanita, mereka akan melakukan apa yang disebut “emotion work”. Wanita lebih “mengarahkan” dan “membentuk” perasaan mereka terhadap laki-laki yang dinilai “tepat”. Para sosiolog juga melihat adanya kecenderungan individu untuk menikahi individu lain dengan karakteristik sosial yang sama, atau disebut dengan “homogami”. Karakteristik sosial tersebut antara lain latar belakang kelas, ras, agama, dan kepribadian individu (Collins dan Coltrane 1996).

 

Sudut Pandang Ekonomi

Gary S. Becker, seorang ahli di bidang ekonomi membuat suatu teori tentang perkawinan dari sudut pandang ekonomi. Teori tersebut menjelaskan tentang proses keputusan menikah seorang individu. Diawali dengan identifikasi yang dilakukan individu terhadap pasangan-pasangan yang mungkin dinikahi. Pasangan-pasangan yang mungkin dinikahi adalah orang-orang dimana ketika individu memutuskan untuk menikah dengan orang tersebut akan menjadi lebih bahagia daripada hidup sendiri (individu diasumsikan bersikap rasional). Individu kemudian akan memilih pasangan yang akan menghasilkan output pernikahan yang paling besar, paling memberikan kebahagiaan diantara semua alternatif yang ada. Menurut model ekonomi perkawinan, seorang individu akan memutuskan untuk menikah jika pernikahan akan lebih memberikan kebahagiaan daripada hidup sendiri (Bryant dan Zick 2006).

 

Perkawinan dalam Islam

Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah, telah mensyari’atkan adanya pernikahan bagi setiap manusia. Dengan pernikahan seseorang dapat memenuhi kebutuhan fitrah insaniyahnya (kemanusiaannya) dengan cara yang benar sebagai suami isteri, lebih jauh lagi mereka akan memperoleh pahala disebabkan telah melaksanakan amal ibadah yang sesuai dengan syari’at Allah SWT. Pernikahan dalam pandangan Islam, bukan hanya sekedar formalisasi hubungan suami isteri, pergantian status, serta upaya pemenuhan kebutuhan fitrah manusia. Pernikahan bukan hanya sekedar upacara sakral yang merupakan bagian dari daur kehidupan manusia. Pernikahan merupakan ibadah yang disyari’atkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya, maka tidak diragukan lagi pernikahan adalah bukti ketundukan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Perkawinan = Kompleks

Selain yang telah dijelaskan di atas, kemungkinan ada sudut pandang lain dalam memahami perkawinan. Hal tersebut menunjukkan bahwa perkawinan merupakan suatu hal yang bersifat kompleks. Perkawinan tidak hanya dipandang sebagai suatu upaya hukum untuk membentuk suatu keluarga yang sah. Lebih dari itu, perkawinan juga memiliki nilai-nilai sosiologis dan ekonomi. Sebagai umat Islam, kita juga perlu memaknai perkawinan secara lebih dalam.

Dengan memahami perkawinan dari berbagai sudut pandang, diharapkan kita semua akan lebih mempersiapkan diri sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang tersebut. Ada tatangan besar yang menanti di balik gerbang perkawinan. Kita perlu menjawab tantangan tersebut dengan terus meningkatkan kapasitas diri dari berbagai aspek, kematangan diri, spiritualitas, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Sehingga pada akhirnya, tujuan utama dari perkawinan tersebut bisa dicapai. Semoga Allah mengimpun yang terserak dari kalian berdua, memberkahi kalian berdua; dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunannya, menjadikan pembuka rahmat, sumber ilmu dan hikmah, pemberi rasa aman bagi umat (doa Rasulullah SAW pada saat perkawinan Ali dengan Fatimah).

(T ulisan ini pernah dimuat dalam buletin Al Awal)

1) Seluruh penjelasan pada bagian ini disadur dari http://id.wikipedia.org

 

Work Cited

Bryant WK, Zick CD. 2006. The Economic Organization of the Household, Second Edition. Cambridge: Cambridge University Press.

Collins R dan Coltrane S. 1996. Sociology of Marriage and the Family: Gender, Love, and Property. Fourth Edition. Chicago: Nelson-Hall Publishers.

 

Iklan

, , , , ,

  1. #1 by jasmineamira on Februari 3, 2011 - 7:00 am

    tau deh yg anggota al-awwal.
    hahahahahaha :p

  2. #2 by asudomo on April 7, 2011 - 9:22 pm

    wah mas, sepertinya kurang adil jika perkawinan ditinjau dari segi biologi. Perkawinan dari segi biologi yang dipaparkan dalam tulisan ini lebih ke hubungan seks. Menurut saya Perkawinan merupakan sesuatu yang beda. IMHO.

    • #3 by Agus Surachman on April 8, 2011 - 6:14 am

      ehehe.. mohon maaf mas, pengetahuan saya terbatas soal itu. Mungkin mas Asudomo bisa berbagi tentang sisi lain perkawinan dari sudut pandang biologi 🙂

      • #4 by asudomo on April 8, 2011 - 3:56 pm

        haduh… apa ya? heheh
        Klo menurut saya begini mas, karena manusia termasuk mahluk sosial, seperti primata yang lain (dalam science manusia termasuk ordo primata). Jadi manusai membutuhkan pasangan hidup demi kelangsungan hidupnya. Maksudnya ada kebutuhan biologi yang lain yang harsu dipenuhi selain seks. Misalnya teman ngobrol, tempat curhat dan lain lain
        Begitu menurut saya mas hehehe. CMIIW.

      • #5 by Agus Surachman on April 8, 2011 - 5:18 pm

        sip,sip.. sebetulnya di sudut pandang sosiologi sudah sedikit saya bahas mas soal cinta yang melandasi kenapa manusia sampai memutuskan untuk melakukan perkawinan..ehehe mungkin kalau digabung disiplin ilmu biologi sama sosiologi untuk membahas masalah perkawinan ini keren juga ya… namanya jadi sosiobiologi,ehehe (udah ada belum ya?) silahkan mas asudomo menjadi salah satu ahlinya,ehehe :p

  1. Tidak Mudah « (In)Sight

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: