Arsip untuk Januari, 2011

Berani Tidak Populer


Kemiskinan masih menjadi permasala­­­­han utama yang menanti untuk segera diselesaikan di Indonesia. Seringkali program pengentasan kemiskinan yang ada di Indonesia bersifat hit and run, tidak berkelanjutan, dan beorientasi jangka pendek. Indonesia membutuhkan pemimpin yang ‘berani untuk tidak populer’ karena komitmennya untuk tidak mempolitisasi masalah pengentasan kemiskinan. Tidak memanfaatkan angka-angka hanya untuk mendongkrak popularitas.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

, , ,

Tinggalkan komentar

Meninjau Kembali Perkawinan


Salah satu tugas perkembangan dari individu yang telah mencapai usia dewasa adalah mencari pasangan hidup. Sebagai individu yang telah matang secara usia (dan semoga memiliki kepribadian dan sikap yang matang pula), kita telah memenuhi syarat untuk membangun mahligai perkawinan dengan pasangan hidup. Dengan demikian, sudah selayaknya kita mulai menaruh perhatian terhadap hal tersebut. Terlebih, kita sebagai orang-orang yang memang menggeluti bidang keluarga yang terkait erat dengan masalah perkawinan.

 

Perkawinan

Perkawinan telah menjadi perhatian dari kalangan akademisi dengan berbagai latar belakang keilmuan. Sebelum teman-teman semua memutuskan untuk menikah, alangkah lebih baiknya bila teman-teman kembali memahami makna perkawinan dari berbagai sudut pandang yang akan saya paparkan berikut ini. Dengan begitu, diharapkan kita semua bisa memaknai perkawinan secara lebih dalam. Saya yakin teman-teman semua pernah mempelajari ini semua, tapi tidak ada salahnya untuk kembali mengingatkan.

Menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974, yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan dalam terminologi tersebut adalah suatu pengikat secara lahir dan batin antara pria dan wanita untuk kemudian hidup bersama membentuk keluarga. Pertanyaannya kemudian, mengapa seorang laki-laki dan seorang perempuan mau mengikatkan diri mereka dalam lembaga perkawinan?

Baca entri selengkapnya »

, , , , ,

6 Komentar

Family Life in Matriarchal Cultures


It’s remarkable, two different culture that live separately and thousands of miles away each other, but there are some similarity in their way of life.

Baca entri selengkapnya »

, , , ,

1 Komentar

Pertarungan


Sudah pernah menonton film “A Beautiful Mind” besutan sutradara Ron Howard yang dibintangi oleh aktor dan aktris peraih oskar Russell Crowe dan si cantik Jennifer Conelly? Film ini mengangkat kisah nyata seorang matematikawan jenius Amerika Serikat lulusan Princeton University, John F. Nash (Russell Crowe), yang berhasil menyumbangkan “kesetimbangan Nash” dalam teori permainan. Karena kejeniusannya tersebut, Nash diangkat menjadi profesor untuk bidang matematika di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Karir Nash yang gemilang di bidang akademik perlahan hancur karena kelainan jiwa yang dideritanya. Nash ternyata mengidap penyakit schizophrenia, kesulitan untuk membedakan antara dunia nyata dengan khayalan. Nash sempat vakum dari dunia mengajar di universitas dan hanya diam di rumah karena penyakitnya tersebut. Namun semangat yang ada dalam dirinya untuk melawan penyakitnya tersebut serta dukungan dari orang-orang terdekat terutama istri membuat Nash bisa kembali berkarir di dunia akademik. Puncaknya pada tahun 1994, Nash didaulat untuk menerima penghargaan Nobel bidang ekonomi melalui teori permainan yang ia kembangkan. Nash berhasil memenangi pertarungan sumur hidupnya melawan penyakit yang dideritanya.

Sementara itu pada tahun 2008, aktor Bollywood yang juga mulai merambah dunia sutradara Aamir Khan, merilis film yang sangat inspiratif berjudul “Taare Zameen Par” (Like Stars on Earth). Film ini mengisahkan seorang anak bernama Ishaan Awasthi yang mengalami keterlambatan dalam belajar di sekolah, terutama dalam hal menulis dan membaca. Orangtua Ishaan kemudian memindahkannya ke sebuah sekolah boarding school karena menganggap kenakalan Ishaan yang menyebabkannya gagal. Disana Ishaan bertemu dengan seorang guru seni, Ram Nikhumb (Aamir Khan), yang menyadari kelainan yang diderita Ishaan. Nikhumb kemudian yakin bahwa Ishan menderita kelainan yang menyebabkan dirinya sulit untuk mebaca dan menulis atau yang biasa disebut dengan dyslexia.

Salah satu Adegan dalam film tersebut, Nikhumb berusaha meyakinkan Ishaan bahwa dyslexia bukan halangan bagi dirinya untuk maju. Nikhumb menceritakan bahwa Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Leonardo dan Vinci, Pablo Piccasi, Walt Disney, dan banyak orang-orang besar lainnya yang mengguncang dunia karena karya mereka adalah para penderita dyslexia juga. Seperti halnya Nash di cerita sebelumnya, mereka juga adalah para pemenang yang mampu mengalahkan “dirinya sendiri” dan muncul dengan masterpiece mereka yang luar biasa.

Pelajaran berharga dari dua film tersebut adalah: setiap orang pasti memiliki kekurangan yang menjadi sisi negatif dalam dirinya. Perjalanan hidup ini tak ubahnya pertarungan dalam diri kita sendiri antara potensi positif dengan potensi negative yang keduanya ada dalam setiap diri kita. Pembeda antara pemenang dan pecundang adalah sisi yang menang dalam pertarungan tersebut. Nash, Eistain, dan yang lainnya adalah para pemenang yang mampu mengalahkan sisi negatif dalam diri mereka sehingga mampu melahirkan karya-karya yang mengguncang dunia. Sementara sebagian orang lainnya diperbudak oleh sisi negative mereka dan nama mereka tidak akan berbekas dalam sejarah dunia ini.

Hidup ini adalah pilihan, manusia adalah mahkluk merdeka yang bebas menentukan arah jalan hidupnya sendiri. Dari sini saya bertekad untuk mulai memerangi sisi negatif dalam diri saya sendiri agar muncul sisi positif yang mungkin bisa memberikan sedikit goresan warna pada dunia. Blog ini telah lama saya harapkan kehdairannya, namun karena saya selalu dikalahkan oleh rasa malas dalam diri saya sendiri, maka tidak pernah terealisasi. Saya senang menulis dan mudah-mudahan peperangan saya melawan rasa malas yang masih terus bergulir ini akan saya menangi dengan lahirnya tulisan-tulisan lain. Walaupun hanya sekedar tulisan yang menceritakan pandangan subjektif diri saya sendiri. Inilah demokrasi, setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya masing-masing (tentu dengan penuh tanggung jawab).

2 Komentar

%d blogger menyukai ini: